Fimela.com, Jakarta Kesibukan yang super padat mungkin sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban masa kini. Banyaknya jadwal kegiatan di luar rumah dan tuntutan bertemu dengan banyak orang membuat penampilan jadi hal yang utama. Namun, bukan hanya makeup dan outfit saja yang harus diperhatikan. Kondisi keringat berlebih juga jadi hal yang perlu jadi perhatian utama nih! 

Dikenal dengan istilah medis hiperhidrosis, kondisi ini terjadi ketika produksi keringat berlebihan dan tidak berkaitan dengan aktivitas fisik apapun. Kondisi yang umum terjadi adalah telapak tangan yang berkeringat hingga pakaian yang digunakan cepat basah. Kebayang dong, pakaian yang basah oleh keringat pasti bikin nggak percaya diri saat akan bertemu banyak orang!

Kamu juga termasuk salah satu yang mengalami kondisi ini, Sahabat Fimela? dr. Achmad Faisal, Sp.BTKV, Subsp. T(K) (Spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular, Subspesialis Bedah Toraks) dari RS EMC Alam Sutera memberikan penjelasannya lebih lanjut. 

Mengulik Penyebab Hiperhidrosis

For your information, proses keluarnya keringat terjadi saat sistem saraf mendeteksi tingkat suhu tubuh. Ketika suhunya naik, sistem saraf akan memicu kelenjar keringat mengeluarkan keringat yang bertujuan menurunkan suhu tubuh. Sementara itu, hiperhidrosis terjadi akibat kondisi medis tertentu, atau karena sistem saraf tubuh terlalu aktif.

Faktanya, hiperhidrosis nggak hanya bikin rasa tidak nyaman dan malu saja. Kondisi ini ternyata juga bisa menurunkan kualitas hidup penderitanya, di mana seseorang bisa mengalami dehidrasi, cepat lelah, lemas, bahkan bisa memicu kehilangan kesadaran sesaat atau pingsan.

Berkeringat sendiri sebenarnya proses normal untuk mendinginkan suhu tubuh yang terlalu panas. Namun, penderita hiperhidrosis cenderung mengeluarkan keringat yang lebih banyak bahkan terjadi saat tubuh tidak membutuhkan pendinginan. Menariknya, kondisi ini lebih sering dialami perempuan dan mulai terlihat sejak usia anak-anak hingga remaja.

Jenis Hiperhidrosis

Jika dibedakan berdasarkan penyebabnya, hiperhidrosis dibagi menjadi 2, sebagai berikut. 

1. Hiperhidrosis Primer

Kondisi ini terjadi karena sistem saraf terlalu aktif dalam merangsang kelenjar keringat. Hal ini menyebabkan produksi keringat meningkat biarpun tidak dipicu oleh aktivitas fisik maupun kenaikan suhu tubuh. Penyebab utamanya belum diketahui, tapi ada dugaan kuat kondisi ini dipengaruhi oleh faktor keturunan. 

2. Hiperhidrosis Sekunder

Pada hiperhidrosis sekunder, produksi keringat berlebihan terjadi akibat kondisi medis seperti diabetes, obesitas, hipertiroidisme, asam urat, dan beberapa jenis kanker. Selain itu, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh penggunaan obat tertentu seperti antidepresan, propranolol, atau pilocarpine.

Gejala Umum Hiperhidrosis

Secara umum, hiperhidrosis ditandai dengan keluarnya keringat yang sangat banyak tanpa adanya pemicu. Beberapa hal ini bisa jadi gejala umum hiperhidrosis:

– Muncul butiran keringat yang jelas meskipun cuaca tidak panas atau tidak melakukan aktivitas yang banyak.

– Pakaian sering basah karena keringat. 

– Sering mengalami gangguan aktivitas, misalnya sulit membuka pintu atau memegang pena karena telapak tangan basah oleh keringat. 

– Kulit terlihat tipis, pecah-pecah dan terkelupas dengan warna lebih pucat atau kemerahan. 

– Sering mengalami infeksi kulit di bagian tubuh yang berkeringat banyak. 

– Cepat lelah dan lemas karena kehilangan cairan atau dehidrasi.

Gejala Hiperhidrosis Primer

Bagi yang mengalami hiperhidrosis primer, gejalanya bisa terlihat pada satu atau beberapa bagian tubuh terutama ketiak, tangan, kaki, atau dahi. Keringat berlebih ini tidak muncul saat tidur, tapi bisa langsung meningkat ketika bangun. Gejala ini biasanya terlihat sejak anak-anak atau remaja. 

Gejala Hiperhidrosis Sekunder

Pada hiperhidrosis sekunder, biasanya seluruh tubuh terasa berkeringat berlebihan bahkan saat sedang tidur. Kondisi ini baru muncul setelah dewasa.

Kapan Harus ke Dokter? 

Keringat yang muncul secara berlebihan bisa jadi tanda dari kondisi medis tertentu. Lakukan pemeriksaan ke dokter atau IGD terdekat jika sudah disertai rasa mual, nyeri dada, pusing atau rasa ingin pingsan. 

Selain itu, pemeriksaan ke dokter juga diperlukan jika keringat yang keluar lebih banyak dari biasanya, muncul pada malam hari tanpa pemicu dan produksinya berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan juga bisa dilakukan jika keringat berlebih ini menyebabkan tekanan emosional atau gangguan kehidupan sosial serta jika disertai dengan gejala penurunan berat badan drastis.

Cara Diagnosis Hiperhidrosis

Saat memeriksakan diri ke dokter, umumnya dokter akan melakukan screening atau tanya jawab tentang gejala yang dialami, keluhan pertama kali muncul dan riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Pemeriksaan fisik secara menyeluruh juga diperlukan yang meliputi:

1. Tes Darah dan Urine

Sampel darah atau urine pasien akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan kondisi medis yang menyebabkan hiperhidrosis, misalnya hipertiroidisme atau gula darah rendah (hipoglikemia).

2. Tes Keringat

Dilakukan untuk mengetahui bagian tubuh mana saja yang mengalami hiperhidrosis dan tingkat keparahannya.

Pengobatan Hiperhidrosis yang Umum Dilakukan

Cara menangani hiperhidrosis sebenarnya tergantung penyebabnya. Jika disebabkan kondisi medis tertentu, dokter akan menangani penyebabnya terlebih dulu sebelum masuk pada penanganan keringat berlebih. 

Di tahap awal, dokter akan menyarankan pasien memakai deodoran yang mengandung antiperspirant serta menyarankan pasien mengubah gaya hidup. Mulai dari mandi setiap hari untuk mencegah bakteri berkembang di kulit, mengeringkan tubuh setelah mandi terutama di ketiak dan sela jari, memakai sepatu berbahan kulit dan kaus kaki katun yang menyerap keringat, hingga mengganti kaus kaki yang terasa lembap. 

Selain itu, perbaikan gaya hidup lainnya adalah dengan tidak mengenakan sepatu tertutup terlalu sering, memilih bahan pakaian yang tepat, melakukan teknik relaksasi dan membatasi konsumsi makanan dan minuman yang memicu keringat.

Selain itu, ada beberapa metode lain yang juga diberikan dokter jika perbaikan gaya hidup tidak bisa mengendalikan produksi keringat berlebih. 

1. Pemberian Obat-obatan

Beberapa obat-obatan yang biasa diberikan dokter dalam mengatasi hiperhidrosis antara lain obat krim yang mengandung glycopyrrolate untuk menghambat kerja saraf yang memicu keringat, obat minum untuk memperbaiki kinerja saraf pengatur kelenjar keringat, dan obat minum yang mengandung beta-blocker dalam dosis rendah untuk meredakan hiperhidrosis akibat gangguan cemas.

2. Iontophoresis (Alat Penghambat Keringat)

Iontophoresis dilakukan jika hiperhidrosis terjadi hanya di telapak tangan atau kaki. Cara ini dilakukan dengan merendam tangan atau kaki pasien ke dalam air lalu mengalirkan listrik yang disalurkan lewat air untuk menghambat kelenjar keringat. Terapi tersebut umumnya efektif, tapi tidak bertahan lama dan harus diulang berkali-kali. 

3. Suntik Botulinum Toksin (Botoks)

Suntik botoks dilakukan untuk menghambat kerja saraf yang menyebabkan keringat berlebih untuk sementara. Suntikan ini diberikan beberapa kali di area tubuh yang berkeringat dengan pemberian bius lokal.

4. Terapi Gelombang Mikro

Terapi dengan energi gelombang mikro juga bisa dilakukan untuk menghancurkan kelenjar keringat. Prosesnya dilakukan selama 20-30 menit setiap 3 bulan sekali hingga pasien sembuh. Namun, efek sampingnya adalah rasa tidak nyaman dan perubahan sensasi pada kulit.

5. Operasi Simpatektomi

Operasi untuk hiperhidrosis dilakukan jika metode pengobatan lain tidak efektif. Operasi yang bernama simpatektomi ini bisa dilakukan dengan cara operasi bedah atau laparoskopi (endoscopic thoracic sympathectomy). Operasi ini dilakukan dengan cara memotong sebagian kecil saraf yang mengatur produksi keringat.

Komplikasi Hiperhidrosis

Hiperhidrosis dapat menyebabkan infeksi jika kondisi kulit sering lembap atau terlalu basah. Selain itu, hiperhidrosis juga dapat membuat penderitanya malu karena baju atau ketiaknya tampak basah. Kondisi tersebut dapat mengganggu penderita ketika bekerja atau belajar.

Pencegahan Hiperhidrosis

Jika terjadi karena faktor keturunan, hiperhidrosis tidak dapat dicegah. Pasien hanya bisa melakukan pencegahan bau badan dengan perbaikan gaya hidup saja. 

Sementara itu, pada hiperhidrosis sekunder, pencegahan yang dilakukan tergantung penyebabnya. Sebagai contoh, hiperhidrosis akibat efek samping obat bisa dicegah dengan mengganti obat tersebut. Sementara hiperhidrosis akibat konsumsi minuman berkafein dapat dicegah dengan berhenti mengonsumsi minuman berkafein.

Namun, jika disebabkan oleh penyakit tertentu seperti jantung atau kanker, hiperhidrosis tidak dapat dicegah.

Jika kamu memiliki masalah hiperhidrosis, konsultasi lebih lanjut dengan dokter profesional seperti dr. Achmad Faisal, Sp.BTKV, Subsp. T(K) dari RS EMC Alam Sutera demi menemukan solusi yang tepat. Jika kamu ingin mengetahui informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Yohan di 0896 8506 2890.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *