Dalam mejalani art therapy, tidak diperlukan kemampuan khusus dalam bidang seni. Terapi ini bisa dilakukan oleh siapa saja dengan kondisi medis yang disebutkan di atas. Kendati begitu, sayangnya terapi ini belum terbukti efektif untuk semua jenis kondisi kesehatan mental, contohnya skizofrenia.

Terapi seni juga tidaklah sama dengan kelas seni. Kelas seni difokuskan pada teknik pengajaran dan menciptakan suatu karya. Sedangkan terapi seni, pasien bebas berkreatifitas untuk mengekspresikan perasaan yang sedang dirasakan.

Art therapy dapat dilakukan dalam sesi personal atau secara berlompok, baik bersama pasangan, keluarga, maupun orang yang memiliki masalah serupa. Terapi seni juga bisa dijalani bersamaan dengan metode psikoterapi lainnya, seperti terapi kelompok atau terapi perilaku kognitif.

Di awal sesi art therapy, terapis akan bertanya mengenai latar belakang, termasuk riwayat medis dan peristiwa tertentu, gejala yang dirasakan, serta tujuan yang ingin dicapai melalui terapi. Setelah itu, pasien akan diminta melakukan beberapa metode untuk memulai terapi, baik itu dengan menggambar, melukis, atau media lain.

Saat sesi berlangsung, terapis akan menanyakan pertanyaan seputar seni dari sudut pandang pasien dan bagaimana perasaan pasien setelah melakukannya. Hal ini bertujuan untuk menilai sejauh mana dampak melakukan kreatifitas terhadap suasana hati pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *